Tuesday, January 31, 2012

Pengaruh Kedewasaan Terhadap Psikologis Kita

"Kedewasaan terkadang berbuah penyakit!"

Yup! Peribahasa tersebut di atas adakalanya bener adanya.

Lihatlah, bagaimana kedewasaan diam-diam telah menyelinap kedalam simpul-simpul pembuluh darah, memperdayai dan merampas harga diri kita.

Sikap itu seolah-olah mengembuskan suatu pengaruh semacam magic yang mengontrol. Seperti meremangnya bulu kuduk, muka yang pias, bobot tubuh yang mendadak naik dua setengah kali lipat dari biasanya, kaki yang terasa seperti menginjak sebuah ranjau―kalo di angkat, meledak―dilema bukan?, mulut meracau melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan sebagainya ketika kita tersesat berkunjung di rumah hantu. Itu semua terjadi bukankah diluar kesadaran kita bukan?

*backsound: lolongan serigala* wih, ngeriii..

Ya, sikap tersebut telah membisiki alam bawah sadar kita agar memandang logis semua hal. Mulai dari hal kecil yang jarang terperhatikan.

Contoh: Sandal yang aus karena terus-terusan di pake. Hingga hal-hal besar yang tak jarang jadi headline surat kabar sekalipun.

Contoh: Bagaimana bisa proses peradilan berjalan demikian alot dan memakan begitu banyak waktu, bahkan berbulan-bulan dulu atas seorang yang menebarkan bau semerbak seperti aroma sebuah kantor―tersangka penggelapan uang umat rupanya―sebelum benar-benar benar(?) di adili?
Jawab:
Karena di luar sana, di sudut-sudut kampung yang bahkan belum terpetakan, nenek pencari kayu bakar masih saja semena-mena menjarah ranting-ranting pohon liar di tengah hutan yang tak terpedulikan. Mengumpankan diri di sarang maut, menaruh harapan besar: menerima sedikit upah dari para tetangga atas jerih payahnya, atas lelehan peluhnya, demi menyangga sejumlah nyawa di rumahnya agar tetap bertahan hidup beberapa hari kedepan.

Dari satu sisi timbul penyesalan:
Kenapa gue keburu-buru dewasa seperti gini?
Nyesek ngedapetin keadilan sudah seperti barang-barang rumah tangga yang memiliki nilai tukar di negeri ini, di tanah kelahiranku ini.
Di sisi lain gue malah mentah-mentah menolak. Sebab apa? Karena di masa-masa inilah penasaran gue mendapatkan penawarnya. Disini gue dapet memetik beberapa manfaat.
Seperti:
Faham betul berapa jumlah kalori yang dibutuhkan dua bilah tangan, sepuluh ruas jari, dan sedikit tiupan-tiupan halus di belakang daun telinga untuk bisa bener-bener melenakan seorang hawa lemah iman, menghitung keliling sebelah lingkaran dada sebelum dan sesudah terkena aksi jamah, serta mengukur rentang kemerosotan gundukan tetek dibanding pra-sentuh.

Huh!

____________

NB: Kemarin gue bener-bener jengkel dengan kedewasaan itu dan terima saja ketika di rendahkan olehnya―menghinakan diri lebih tepatnya.

No comments:

Post a Comment